Kepemimpinan Kristen

by Dr. Sutarno

Pendahuluan

Bila kita berpikir dan berbicara mengenai kepemimpinan Kristen, maka suatu persoalan dasar akan segera muncul: apa yang membuat/menjadikan kepemimpinan Kristen itu Kristen? Dengan kata lain : ciri-ciri khusus apa dan kwalitas-kwalitas khusus apa yang terdapat pada kepemimpinan pada umumnya?

Di pihak lain kita menyadari pula bahwa ada hal-hal tertentu pada kepemimpinan umum yang pasti dan harus terdapat pula pada kepemimpinan Kristen. Hal ini disebabkan karena subyek maupun obyek dari kepemimpinan Kristen itu merupakan unsur-unsur yang tidak dapat bebas sepenuhnya dari hal-hal umum yang berlaku bagi setiap manusia secara individual dan kelompok. Oleh karena itu kita perlu pula memperhatikan dan memperhitungkan hal-hal yang berlaku pada kepemimpinan umum bagi kepemimpinan Kristen. Kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam kepemimpinan Kristen selama ini mungkin timbul justru sebagai akibat kekurang-tahuan ataupun kekurang-pedulian terhadap hal-hal umum tersebut.

Mengingat bahwa kepemimpinan Kristen dapat mempunyai cakupan wilayah permasalahan yang luas sekali, maka dalam uraian ini saya akan membatasi dan memusatkan pembahasan saya pada masalah-masalah tertentu saja, yaitu :

  1. hal-hal yang berhubungan dengan pribadi pemimpin Kristen
  2. hal-hal yang berhubungan dengan obyek (golongan/kelompok yang dipimpin ) atau sasaran kepemimpinan Kristen.

Pribadi Pemimpin Kristen

Sebelum saya membahas lebih lanjut mengenai masalah ini baiklah saya kemukakan terlebih dahulu beberapa pendapat para ahli mengenai pribadi pemimpin pada umumnya.

1. Pola-pola pemimpin/kepemimpinan

a. Tipologi menurut Max Weber : (dalam : The Theory of Social and Economic Organization).

Dipandang dari sudut legitimasi atau syahnya pemimpin/kepemimpinan, Max Weber membedakan tiga macam pola pemimpin/kepemimpinan : i. Charismatis, ii. Tradisional, iii. Rasional

i. Legitimasi dari pada kepemimpinan yang bersifat charismatis berdasarkan pengakuan terhadap kwalitas-kwalitas istimewa (kesaktian, kepahlawanan, kecakapan, dan sebagainya) yang dimiliki oleh pemimpin, yang dipercayai oleh para pengikutnya sebagai karunia khusus dari kekuatan supra-manusiawi. Dengan kata lain, kepemimpinannya itu dipercayai atas penunjukan dari dan pengukuhan oleh kekuatan supra-manusiawi (dewa, Tuhan)

ii. Legitimasi daripada kepemimpinan yang bersifat tradisional berdasarkan pada pengakuan atas tradisi hak berkuasa secara turun-temurun yang dimiliki oleh pemimpin. Biasanya kepemimpinan tradisional itu bercampur dengan unsur-unsur charismatis.

iii. Legitimasi kepemimpinan yang bersifat rasional itu dijumpai apabila pertunjukan dan pengakuan terhadap kepemimpinan tersebut melalui/berdasarkan proses terpenuhinya peraturan-peraturan dan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan.

b. Pembagian menurut Richard Schmidt (dalam : Encyclopedia of the Social Sciences).

Richard Schmidt mendasarkan pembagiannya pada titik tolak pendapat bahwa semua kelompok kemasyarakatan itu baik yang terbentuk berdasarkan adat dan tradisi maupun yang secara sengaja diorganisir oleh para warganya selalu didasarkan pada minat, kepentingan dan kebutuhan bersama yang ingin dipenuhi. Berdasarkan asumsi ini Schmidt membedakan dua tipe kepemimpinan :

i. Kepemimpinan sebagai wakil atau lambang kelompok (representative or symbolic leadership), dan ii. Kepemimpinan yang dinamis atau kreatif (dynamic or creative leadership).

ii. Seorang pemimpin yang berperan sebagai wakil kelompok ialah pemimpin yang sanggup bertindak atas nama para pengikutnya dan dapat memuaskan/memenuhi harapan-harapan mereka. Pemimpin yang demikian dapat dikatakan pula merupakan tokoh yang menjadi model untuk dicontoh oleh para pengikutnya.

iii. Kepemimpinan yang kreatif ialah kepemimpinan yang mampu melahirkan hal-hal serta pemikiran-pemikiran yang inovatif yang membaharui konsep-konsep maupun kebiasaan-kebiasaan yang lama; yang melahirkan program-program baru untuk menyempurnakan atau mengganti yang sudah tidak relevan lagi, dan sebagainya; yang menggerakkan dan mengubah pemikiran dan keyakinan para penganutnya.

c. Pembedaan menurut K. Lewin (dalam : Resolving Social Conflicts).

Berdasarkan pengamatannya Lewin membedakan tiga tipe kepemimpinan :

i. Type laissez-faire, di mana si pemimpin sedikit sekali menerapkan kepemimpinannya sehingga segala sesuatu dibiarkannya berjalan sendiri-sendiri.

ii. Type otokratis, yaitu bila segala keputusan dilakukan dan diambil sendiri oleh pemimpin tanpa mempedulikan pendapat dan suara yang dipimpin.

iii. Type demokratis, yaitu kepemimpinan yang bekerja dan berembug dengan para pengikut sehingga pada dasarnya kelompoklah yang bekerja dan membuat keputusan.

d. Klasifikasi menurut Eric Berne (dalam : The Structure and dynamics of organizations and groups).

Bertitik tolak dari tinjauan terhadap struktur kelompok Berne mengklasifikasikan 3 macam kepemimpinan :

i. Penanggung jawab (responsible leader), yaitu orang yang berperan sebagai pemuka, yang kepadanya dalam struktur organisasi kelompok segala tanggungjawab terakhir dipikulkan.

ii. Pemimpin efektif (effective leader), ialah orang yang membuat/menentukan keputusan dalam struktur organisasi. Ia memiliki atau dapat juga tidak memiliki posisi tertentu.

iii. Pemimpin psikologis (psychological leader) adalah orang yang secara psikologis amat berkuasa di kalangan para warganya. Sebagai contoh : Pemerintah Kerajaan Inggris. Di sana Perdana Menteri merupakan sekaligus penanggungjawab dan pemimpin efektif, sedangkan Sri Ratu merupakan pemimpin psikologis.

Akhirnya ingin saya kutipkan di sini pendapat J. Firet (dalam : Ern dozijn is meer dan twaalf) mengenai pemimpin. “Pemimpin dengan demikian bukannya orang yang ditinggikan di atas yang  lain, yang menangani semua persoalan bagi massa yang tidak aktif, melainkan awal dari diferensiasi fungsional dari seluruh kelompok. Menjadi pemimpin tidak berarti pertama-tama mencari kuasa melainkan memikul tanggungjawab. Kekuasaan adalah satu aspek dari tanggungjawab, sehingga harus ditentukan, diawasi, diwarnai, oleh tanggungjawab itu. Di dalam kepemimpinan ‘fungsi’ (tanggungjawab) harus mendahului ‘posisi’.”

Dari apa yang dikemukakan oleh para ahli tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa bagaimanapun juga setiap pemimpin itu harus memenuhi kriteria atau persyaratan-persyaratan tertentu pula, apakah itu diperolehnya sebagai charisma maupun melalui usaha pencapaian pengetahuan dan kecakapan-kecakapan tertentu pula. Tanpa itu kepemimpinan seorang tidak akan efektif dan fungsionil, sehingga tidak akan dapat bermanfaat bagi golongan yang dipimpinnya.

Selanjutnya menurut hemat saya type-type kepemimpinan yang disebutkan tadi sedikit banyak dan dalam batas-batas tertentu masih berlaku pula bagi kepemimpinan Kristen dewasa ini. Dengan kata-kata lain untuk mencapai kepemimpinan Kristen yang efektif dan fungsional kita harus pula memperhatikan faktor-faktor dan aspek-aspek yagn dikemukakan dalam berbagai pola dan klasifikasi kepemimpinan yang disebutkan tadi.

2. Sifat-sifat seorang pemimpin

Dr. O. Notohamidjojo, Rektor pertama Universitas Kristen Satya Wacana, dalam pidato Dies Natalis Satya Wacana tahun 1958 merangkum 8 (delapan) sifat-sifat yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin Kristen. Sifat-sifat tersebut dijelaskan beliau sebagai berikut :

1) Kasih

Perhubungan antar manusia itu harus dikuasai oleh hukum kasih yang difirmankan dalam Mat. 22-39 “Hendaklah engkau mengasihi sesama manusia seperti dirimu sendiri.” Demikian pula hukum dasar dalam relasi antara pemimpin dan yang dipimpin adalah kasih. Hukum kasih ini yang menjamin perlakuan yang dipimpin sebagai subyek (seperti diri sendiri) dan bukan sebagai obyek.

2) Pengabdi

Sifat kedua daripada seorang pemimpin adalah sifat pengabdi. “Barang siapa di antara kamu yang hendak menduduki tempat yang pertama (artinya: hendak menjadi pemimpin) ia patut menjadi hamba atau abdi kepada sekalian” (Mark. 10 : 44).

3) Pembawa Pesan

Di samping kedua sifat pokok tersebut, I.W. Moomaw dalam bukunya “Deep furros” dalam pasal “Qualities of real leaderships”, menyebutkan suatu deretan sifat-sifat, diantaranya kami pilih : Pemimpin yang sesungguhnya harus mempunyai “message”. Lebih-lebih dalam masa dan keadaan golongan yang dipimpin dihinggapi rasa kekhawatiran, diombang-ambingkan oleh keraguan-raguan, di situ pemimpin harus melihat dengan jernih apakah rancangan, apakah idee, apakah messagenya dan ia harus sanggup menguraikan “wartanya” dengan sederhana serta mudah difahami.

4) Memiliki wawasan (vision and insight)

Pemimpin harus mempunyai vision and insight. Ia harus bisa melihat lebih jauh ke depan dari lain-lain dan harus bisa membedakan lebih terang daripada golongan yang dipimpinnya.

5) Berkeyakinan kuat dan percaya kepada diri sendiri (strong conviction and self-confidence).

Pemimpin kerap kali berhadapan dan berlawanan dengan kenyataan yang harus diubahnya dan bersemuka dengan orang-orang yang harus diputar pandangan dan haluannya, harus mempunyai strong convictions, keyakinan yang tak gentar, dan self confidence, kepercayaan kepada diri sendiri.

6) Tekun, sabar dan selalu bersemangat (persistence, patience and enthusiasm)

Pemimpin harus tahan uji, sabar dan mempunyai semangat yang tak kunjung padam. Ia harus mempunyai keteguhan jiwa dan kesetian untuk mewujudkan apa yang menjadi panggilan dan suruhannya. Di Indonesia pada masa sekarang, hampir  di semua lapangan hidup, bertaburanlah rancangan-rancangan yang hebat dan mengagumkan, tetapi yang kandas di jalan karena kekurangan keteguhan jiwa dan kesabaran untuk menyelesaikan.

7) Berkemauan untuk kerja keras (willingness to work hard)

Orang lain, penganut bisa malas, tetapi seorang pemimpin tidak boleh malas. Ia harus bekerja keras dan harus mempunyai kecakapan menggiatkan orang lain untuk bekerja.

8) Keinsyafan dan kewajiban dan disiplin pada diri sendiri

Pemimpin harus bisa menguasai dan membatasi diri sendiri, ia harus bisa tunduk kepada peraturan. Baginya berlaku, bahwa dalam disiplin dan pembatasan diri sendiri nampaklah keunggulannya. Disiplin pada diri sendiri harus dibarengi oleh keinsyafan akan kewajiban. Perintah Nelson pada tahun 1805 di Trafalgar bukan berbunyi: England expects every man will be a hero, melainkan : England expects every man will do his duty.

Hendaknya itu sudah cukup: melainkan kewajiban dengan disiplin terhadap diri sendiri.

Demikianlah astadarma, tugas delapan daripada pemimpin sejati.

3. Obyek atau sasaran kepemimpinan Kristen

Yang dimaksud dengan kepemimpinan Kristen di sini menurut hemat saya mencakup pengertian : suatu kepemimpinan oleh pemimpin Kristen sehingga didasari dengan prinsip-prinsip kekristenan terhadap golongan/kelompok masyarakat, baik yang Kristen ataupun yang tidak Kristen. Dengan demikian kepemimpinan Kristen dimungkinkan tidak hanya terbatas dalam lingkungan Kristen saja.

Hal ini perlu kita sadari dan yakini, justru kalau kita mengingat posisi orang-orang Kristen dalam konteks masyarakat Indonesia sekarang ini memberi peluang yang cukup untuk menjalankan tugas kepemimpinan dalam kehidupan masyarakat luas.

Dalam kesempatan ini pembahasan saya terutama akan saya arahkan pada masalah-masalah di sekitar kepemimpinan Krisetn dalam lingkungan Kristen. Dalam hubungan ini secara garis besar kita dapat membedakan dua macam lingkungan :

a) lingkungan gereja sebagai institusi

b) lingkungan yayasan/badan/organisasi Kristen

 

a)   Lingkungan Gereja

Bagaimanapun, gereja merupakan juga suatu organisasi kemasyarakatan. Di pihak lain berdasarkan hakekat dan alasan keberadaan gereja. Gereja bukan juga sekedar organisasi kemasyarakatan semata-mata. Dalam hubungan ini dapat muncul 2 kesalahan ekstrim. Kesalahan sering terjadi ialah :

1) Menganggap dan memperlakukan gereja sebagai sesuatu yang sama sekali “luar manusiawi” ataupun “luar duniawi”; sesuatu yang hidup dan berjalan dengan “hukum-hukum surgawi” yang mengatasi segala hukum, sehingga dianggap “kebal” terhadap hukum.

2) Menganggap dan memperlakukan gereja semata-mata sebagai organisasi sosial, sehingga dalam cara berpikir, cara kerja, cara pengelolaan dan penanganan masalah, semuanya dijalankan dan diberlakukan atas hidup di dalam kehidupan masyarakat.

Dalam prakteknya seringkali kepemimpinan Kristen terombang-ambing dengan penuh keraguan di antara dua ekstrim tersebut. Bahkan seringkali terjadi bahwa untuk masalah-masalah yang jelas-jelas bersifat “duniawi” masih dicoba-coba dipecahkan secara “surgawi”, sedangkan untuk masalah-masalah yang bersifat “surgawi” dipaksakan pemecahannya secara “duniawi”.

Tidak mengherankan bahwa berbagai ketidak tegasan dan ketidak jelasan yang meresahkan di dalam urusan-urusan  kegerejaan dapat terjadi.

Ini semua berarti bahwa para pemimpin gereja (pendeta, majelis, pejabat gereja lainnya) selain perlu memiliki bekal iman yang mantap, perlu pula memiliki kepekaan, pengetahuan dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan bagi pelaksanaan tugas dan pelayanan mereka, baik mengenai soal-soal keimanan dan kegerejaan, maupun bidang-bidang lainnya. Hanya dengan cara ini para pemimpin gereja akan mampu memilah-milah masalah, sehingga cara pemecahannya yang tepat efektif dapat ditentukan dengan tepat pula. Dalam hubungan ini gereja mungkin perlu bergumul dan memikirkan cara, prosedur dan persyaratan-persyaratan dalam memilih cara. Prosedur dan persyaratan-persyaratan dalam memilih para pemimpin gereja. Jaman “pemain-pemain alam” (intuitif) sudah lewat; keadaan gereja dan masyarakat  sudah begitu kompleks sehingga bakat dan “panggilan” saja belum cukup.

b.   Lingkungan Badan/Yayasan/Organisasi Kristen

Pada umumnya setiap badan/yayasan/organisasi Kristen itu mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Dengan demikian persyaratan-persyaratan (termasuk jon description) yang dikenakan terhadap para pemimpinnya juga dapat ditentukan dengan lebih jelas dan tegas, karena melalui kepemimpinan mereka diharapkan badan/yayasan/organisasi tersebut akan dapat mewujudkan dengan baik tujuan-tujuan yang dirumuskan.

Selanjutnya mengingat bahwa badan dan lain sebagainya yang dimaksudkan adalah badan Kristen, maka hal-hal seperti telah disebutkan dalam uraian mengenai kepemimpinan dalam Gereja juga sedikit banyak akan berlaku di sini.

 

Salatiga, Agustus 1979



  • Follow us on Twitter
  • Like us on Facebook
  • Subscribe to our IL News
  • Subscribe to the Suara Warga RSS
  • Support Institut Leimena