Sejarah Singkat


 

Berdiri tahun 2005, Institut Leimena dibentuk sebagai respons atas perkembangan situasi bangsa dan negara, serta harapan para pimpinan lembaga gereja aras nasional.
 Partisipasi warga gereja dalam membangun bangsa dan negara sebetulnya telah mendapat perhatian umat Kristiani sejak lama. Oleh karena itu, Sidang Raya X DGI/PGI 1984 di Ambon memutuskan agar PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) membentuk lembaga kajian yang dinamai Akademi Leimena dengan Letjen. T.B. Simatupang sebagai ketua yang pertama.
Pada tahun 2004, atas  masukan dan harapan dari para pimpinan lembaga gereja aras nasional, beberapa pengurus Akademi Leimena sepakat untuk mendirikan Institut Leimena sebagai lembaga kajian independen yang mencerminkan perkembangan keberagaman gereja dewasa ini. 
Para pendiri, sekaligus anggota Board of Trustees yang pertama adalah Jakob Tobing, Mangara Tambunan, Matius Ho, Radja Kami Sembiring Meliala, dan Viveka Nanda Leimena. Beberapa diskusi dalam bidang sosial, politik dan ekonomi mulai dilakukan. Jakob Tobing yang saat itu sedang bertugas sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan diangkat sebagai Executive Director dan Matius Ho sebagai Deputy Director.
Berbagai aktivitas Institut Leimena semakin meningkat setelah Jakob Tobing menyelesaikan tugasnya di Korea Selatan pada Februari 2008. Kemudian pertengahan September 2008 untuk pertama kalinya Institut Leimena menggelar “Konsultasi Nasional” untuk membahas berbagai permasalahan bangsa, yang dihadiri oleh para pakar, akademisi, pengusaha, pembuat kebijakan, serta tokoh agama dan masyarakat. 
Sementara itu untuk mengantisipasi pertumbuhan ke depan, pada November 2008 dilakukan penyesuaian struktur organisasi dimana Jakob Tobing menjabat sebagai President Institut Leimena dan Matius Ho sebagai Executive Director. Pontas Nasution, dahulu Executive Director Akademi Leimena, telah diangkat sebagai Senior Program Advisor beberapa bulan sebelumnya. Anggota Board of Trustees Institut Leimena juga bertambah dengan bergabungnya Adrianus Mooy dan Edwin Soeryadjaya di awal 2009.
Melangkah ke depan, Institut Leimena akan terus mengembangkan dirinya untuk turut membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, guna mencapai cita-cita proklamasi kemerdekaan.

 

Berdiri tahun 2005, Institut Leimena dibentuk sebagai respons atas perkembangan situasi bangsa dan negara, serta harapan para pimpinan lembaga gereja aras nasional.

Partisipasi warga gereja dalam membangun bangsa dan negara sebetulnya telah mendapat perhatian umat Kristiani sejak lama. Oleh karena itu, Sidang Raya X DGI/PGI 1984 di Ambon memutuskan agar PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) membentuk lembaga kajian yang dinamai Akademi Leimena dengan Letjen. T.B. Simatupang sebagai ketua yang pertama.

Pada tahun 2004, atas  masukan dan harapan dari para pimpinan lembaga gereja aras nasional, beberapa pengurus Akademi Leimena sepakat untuk mendirikan Institut Leimena sebagai lembaga kajian independen yang mencerminkan perkembangan keberagaman gereja dewasa ini. 

Para pendiri, sekaligus anggota Board of Trustees yang pertama adalah Jakob Tobing, Mangara Tambunan, Matius Ho, Radja Kami Sembiring Meliala, dan Viveka Nanda Leimena. Beberapa diskusi dalam bidang sosial, politik dan ekonomi mulai dilakukan. Jakob Tobing yang saat itu sedang bertugas sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan diangkat sebagai Executive Director dan Matius Ho sebagai Deputy Director.

Berbagai aktivitas Institut Leimena semakin meningkat setelah Jakob Tobing menyelesaikan tugasnya di Korea Selatan pada Februari 2008. Kemudian pertengahan September 2008 untuk pertama kalinya Institut Leimena menggelar “Konsultasi Nasional” untuk membahas berbagai permasalahan bangsa, yang dihadiri oleh para pakar, akademisi, pengusaha, pembuat kebijakan, serta tokoh agama dan masyarakat. 

Sementara itu untuk mengantisipasi pertumbuhan ke depan, pada November 2008 dilakukan penyesuaian struktur organisasi dimana Jakob Tobing menjabat sebagai President Institut Leimena dan Matius Ho sebagai Executive Director. Pontas Nasution, dahulu Executive Director Akademi Leimena, telah diangkat sebagai Senior Program Advisor beberapa bulan sebelumnya. Anggota Board of Trustees Institut Leimena juga bertambah dengan bergabungnya Adrianus Mooy dan Edwin Soeryadjaya di awal 2009, serta Junius Suhadi di akhir 2009.

Melangkah ke depan, Institut Leimena akan terus mengembangkan dirinya untuk turut membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, guna mencapai cita-cita proklamasi kemerdekaan.

 

  • Follow us on Twitter
  • Like us on Facebook
  • Subscribe to our IL News
  • Subscribe to the Suara Warga RSS
  • Support Institut Leimena