Dr. Johannes Leimena
Institut Leimena dinamai untuk mengenang Dr. Johannes Leimena (1905-1977), negarawan dan gerejawan Indonesia, serta berupaya meneladani kepemimpinan beliau yang mengedepankan kasih dan melayani semua kalangan.
Jalan hidup sebagai dokter sama sekali tidak direncanakannya. Niatnya itu muncul dengan tiba-tiba ketika semua jalan lain sudah tertutup. Bagi Om Yo, panggilan akrab Dr. Leimena, hal itu bukan kebetulan tapi bagian dari rencana Tuhan. Pergaulannya sebagai mahasiswa di STOVIA mendekatkannya pada cita-cita kebangsaan yang waktu itu sedang diperjuangkan oleh sebagian besar mahasiswa Indonesia.
Ia juga mulai berkenalan dengan gerakan Oikumene yang berusaha menyatukan umat Kristen tanpa merenggut mereka dari lingkungan sosial dan budaya asalnya. Sejak itu, nasionalisme dan kekristenan menjadi ciri khas pemikiran Om Yo dalam berbagai aspek hidupnya.
Ketika bertugas di Rumah Sakit Immanuel di Bandung (1931-1941), Om Yo terkenal sebagai sosok yang sederhana dan selalu melihat setiap orang sebagai makhluk Tuhan yang sama kodratnya. Karena itulah ia mengecam struktur masyarakat kolonial. Baginya, masyarakat yang terpecah-pecah menurut warna kulit tidak sejalan dengan ajaran Alkitab, dan sikap berdiam diri terhadap hal ini bertentangan dengan hati nuraninya.
Ia juga tidak setuju dengan para teolog Barat yang memisahkan gereja dan negara secara absolut, karena hal itu menyebabkan orang-orang Kristen tidak mau bertanggung jawab dalam kehidupan bernegara. Pemisahan ini telah menyebabkan masyarakat Kristen di Jerman misalnya, tidak peduli pada perkembangan politik sehingga mendorong timbulnya fasisme (yang berujung pada berkuasanya Hitler). Menurut Om Yo, orang Kristen harus memancarkan sinar kasih Kristus kepada masyarakat luas melalui partisipasi aktif.
Pemikiran ini membuat Om Yo bersahabat dengan berbagai kalangan, yang membawanya ke dalam pemerintahan RI. Perannya yang paling jelas dalam masa perang kemerdekaan adalah sebagai delegasi Indonesia dalam perundingan-perundingan diplomatik dengan pihak Belanda. Ia terlibat di perundingan Linggarjati, lalu menjadi ketua Komisi Militer dalam perundingan Renville dan di Konferensi Meja Bundar. Selama periode 1946 s/d 1949, kepemimpinannya di Komisi Militer telah berhasil menjaga keutuhan TNI.
Kesuksesannya di arena diplomasi berasal dari keyakinan bahwa segala persoalan dapat diselesaikan dengan dasar kasih. Karena itulah ia selalu mencari cara-cara yang tidak memerlukan pertumpahan darah. Tak heran jika Presiden Soekarno sangat mempercayainya. Secara keseluruhan, Leimena 18 kali menjadi menteri dalam kurun waktu 20 tahun (8 kali di antaranya sebagai Menteri Kesehatan). Selain itu ia pun dipercaya sebagai Pejabat Presiden sebanyak 7 kali antara 1961 s/d 1965.
Ketika menjadi Menteri Kesehatan, Om Yo mengeluarkan Rencana Bandung yang dirancang berdasarkan pengalamannya melayani sebagai dokter di Bandung. Rencana Bandung inilah yang menjadi cikal bakal dari Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) di masa kini.
Selain terlibat aktif di pemerintahan, Om Yo juga memainkan peranan penting dalam pembentukan Dewan Gereja-gereja di Indonesia yang kini menjadi PGI (Persatuan Gereja-gereja di Indonesia). Setelah melepaskan tugas-tugasnya sebagai menteri, Om Yo masih menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung hingga 1973. Ia meninggal dunia pada tanggal 29 Maret 1977.**
Sumber: Panitia Buku Kenangan Dr. J. Leimena. Kewarganegaraan yang Bertanggungjawab: Mengenang Dr. J. Leimena. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1995.











