Suara Warga Edisi 003/2009

Tetap Bergandengan Tangan

oleh Budi H. Setiamarga, Ph.D.

Kemajemukan yang Setara: Meruntuhkan Mitos Mayoritas Minoritas

Alkisah ada seorang anak yang hilang di sebuah hutan.  Untuk mencari anak ini, penduduk kampung mencoba mencari sendiri-sendiri tetapi gagal.   Mereka lalu bersepakat untuk bergandengan tangan membentuk suatu rantai manusia untuk menyisir hutan tersebut.  Akhirnya anak tersebut ditemukan, tapi ia sudah meninggal kedinginan karena mereka terlambat menemukannya.  Ibu sang anak sambil menangis berkata: ”Seandainya kita bergandengan tangan lebih awal, anak saya tidak sampai meninggal.”  Kisah tragis ini terjadi karena orang terlambat untuk menyadari pentingnya bergandengan tangan tanpa melihat perbedaan dan bahu membahu untuk mencapai tujuan.  Perbedaan bukanlah halangan untuk bekerjasama.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk.  Kemajemukan bisa terjadi karena perbedaan ras, suku, etnis, agama, daerah, dan berbagai macam hal lainnya.  Sayangnya, perbedaan ini seringkali menyebabkan bangsa ini sulit untuk bergandengan tangan mengatasi berbagai persoalan.   Bagaimana seharusnya Anda dan saya menyikapi hal ini?

Tuhan menciptakan segala sesuatu dalam kemajemukan.  Keindahan pelangi justru keluar karena ada keberagaman warnanya.  Sementara itu sebagai ciptaan Tuhan,  manusia diciptakan di dalam kesetaraan, yaitu kesetaraan status (eksistensi sebagai manusia), walau bukan kesetaraan fungsi atau peran (misal: suami dan istri setara secara status tapi berbeda dalam fungsi). Status manusia ini setara atau sama kedudukannya di mata Tuhan karena semua manusia sama-sama berharga di mata-Nya.

Fakta kemajemukan ciptaan Tuhan tidak berubah ketika manusia jatuh dalam dosa.  Keaneka-ragaman tetap ada walaupun manusia dan alam semesta menjadi terkutuk.  Tapi natur dosa menyebabkan manusia tidak begitu saja menerima kemajemukan.  Manusia menjadi lebih mementingkan diri dan kelompoknya, serta menjadi egois dan cinta uang.   Ada pergeseran dari pusat yang disembah.  Dulu yang menjadi pusat adalah Tuhan.  Sekarang yang menjadi pusat adalah diri sendiri.  Manusia tidak lagi mengasihi Tuhan dan orang lain. 

Kedatangan Yesus Kristus memampukan manusia yang percaya kepada-Nya untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi orang lain kembali.  Kemajemukan yang setara merupakan suatu keindahan dan bukan kutukan.  Manusia dimampukan untuk menghargai dan mengasihi orang lain.  Orang percaya dianugerahi kembali kemampuan untuk melihat perbedaan itu sebagai suatu keindahan yang harus dikelola dengan baik.  Manusia juga dimampukan kembali untuk melihat bahwa manusia diciptakan setara karena sama-sama berharga di mata Tuhan.

Bagaimanakah kenyataan yang ada, khususnya dalam konteks Indonesia? 

Sindrom Mayoritas Minoritas

Seorang teman pernah mengatakan bahwa dia memiliki Triple Minority atau minoritas dalam tiga bidang: ia seorang keturunan Tionghoa, seorang Kristen, dan seorang perempuan.  Bagaimana mungkin sindrom minoritas seperti ini bisa terjadi di Indonesia?  Keturunan Tionghoa dianggap minoritas dari segi suku, menjadi seorang Kristen dianggap minoritas dari sisi agama, dan menjadi perempuan rupanya juga dianggap sebagai minoritas karena dianggap sebagai kaum yang lemah. 

Anggapan seperti ini tidak pantas hadir di Indonesia. Sentimen superior-inferior antara (yang dianggap) mayoritas-minoritas merupakan pelecehan atas perjuangan para bapak ibu pendiri bangsa Indonesia yang berasal dari berbagai latar belakang, yang justru berjuang untuk menumpas segala bentuk penjajahan. Alangkah sedihnya mereka bila mengetahui anak-anak bangsanya sendiri justru memunculkan penjajahan baru dalam bentuk isu mayoritas-minoritas ini.

Sewaktu saya SMA di kota Solo di akhir tahun 70-an,  saya mempunyai sekelompok teman belajar yang terdiri dari sekitar 15 orang pria dan wanita.  Ada yang keturunan Jawa, Tionghoa, dan Arab dan yang beragama Islam, Katolik serta Kristen.  Ada yang orangtuanya tentara, pedagang, guru, juragan batik, dan jenis-jenis profesi yang lainnya.  Ada yang rumahnya besar, tapi ada pula yang rumahnya sederhana saja.  Yang menarik adalah bahwa dalam persahabatan masa SMA itu, tidak ada yang merasa menjadi kelompok minoritas, baik secara suku, agama ataupun jenis kelamin.  Persahabatan yang erat rupanya menyebabkan tidak dipikirkannya masalah mayoritas dan minoritas.  Tidak ada rasa inferior karena yang tumbuh adalah rasa persahabatan dan komitmen untuk sama-sama maju dalam studi.

Dalam perkembangan masa, suasana persahabatan yang mengatasi segala perbedaan suku, agama dan latar belakang itu menjadi semakin pudar digantikan oleh kecurigaan-kecurigaan yang sering kali berkembang, yang diawali dari sentimen di tingkat elite.   Rupanya, perkembangan masalah mayoritas dan  minoritas ini bergantung kepada masalah kepentingan.  Bila kita menengok sejarah Indonesia, maka yang terjadi adalah bahwa masalah mayoritas dan minoritas, apakah itu berkaitan dengan masalah agama, etnis, atau masalah lainnya, sering dipakai sebagai kuda tunggangan bagi kepentingan politik.  Dampak yang terjadi adalah bahwa masyarakat akar rumput yang bersahabat satu dengan lainnya menjadi terpecah belah.  Kemajemukan tidak menjadi kekayaan bangsa, tetapi malahan menjadi petaka.  Konflik-konflik yang bernuansa SARA  di Ambon dan Poso merupakan contoh lembaran kelabu bagi  bangsa Indonesia.

Persahabatan Sebagai Perekat Kemajemukan

Dalam bukunya yang berjudul “Living in the Presence of the Future” (Intervarsity Press, 2001), Roy  McCloughry mengungkapkan bahwa “demokrasi berkaitan dengan  komitmen, bukan komitmen terhadap suatu ideologi, tapi terhadap sesama yang lain, bukan komitmen atas kebijakan, tapi komitmen merawat kehidupan dalam komunitas.”

Kualitas demokrasi sebuah negara bukan hanya ditentukan semata-mata oleh konstitusinya, tetapi oleh bagaimana demokrasi itu ditunjukkan dalam kehidupan nyata.  Penghargaan aspek kemajemukan dan kesetaraan itu diungkapkan dalam satu kata yaitu persahabatan.  Yang membangun sebuah negara demokrasi secara hukum adalah UUD dan Pancasila, tetapi yang membangun demokrasi adalah persahabatan dan relasi dengan tetangga secara nyata.

Menarik untuk diingat bahwa perintah “kasihilah sesamamu manusia” dalam bahasa Inggris adalah “love your neighbour”, “kasihilah tetanggamu”.  Tuhan Yesus menyadari bahwa kasih adalah suatu konsep yang abstrak.  Tetapi konsep itu menjadi nyata dalam tindakan yang nyata pula.  Demikian juga dalam sebuah negara demokrasi, konsep majemuk dan setara adalah konsep yang abstrak dan tidak nyata.   Tetapi dalam sebuah persahabatan, konsep ini menjadi nyata.  Segala perbedaan dapat diatasi karena ada komitmen di antara orang-orang yang terlibat.

Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila telah memberikan jaminan hukum bahwa Indonesia menghargai kemajemukan.  Tetapi di atas semuanya itu, komitmen pribadi kitalah yang akhirnya akan menentukan arah ke depan dari Indonesia.**

 

Budi Hartono Setiamarga adalah Director dari Center of Policy Analysis (CePA) Institut Leimena.



  • Follow us on Twitter
  • Like us on Facebook
  • Subscribe to our IL News
  • Subscribe to the Suara Warga RSS
  • Support Institut Leimena