Cita-cita Indonesia
Indonesia dan wawasan Nusantara
“INDONESIA” adalah sebuah kata yang sarat makna. Didalamnya terkandung sejarah yang panjang, gagasan, tujuan, harapan dan cita-cita yang luhur serta semangat berjuang dan kerelaan berkorban mewujudkan cita-cita.
Adalah James Richardson Logan, seorang sarjana hukum lulusan Universitas Edinburgh, Skotlandia, yang pada tahun 1850 memberi nama “Indonesia” pada rangkaian kepulauan Nusantara disepanjang katulistiwa. Secara fisik Indonesia berarti kepulauan Hindia. Kemudian Maxwell, seorang ahli bumi dari Inggris, menyebut wilayah ini sebagai “The Island of Indonesia” (1862). Adolf Bastian, guru besar etnologi di Universitas Berlin mempopulerkan nama Indonesia dikalangan akademisi (1884) sehingga akhirnya tersebar luas.
“INDONESIA” adalah sebuah kata yang sarat makna. Didalamnya terkandung sejarah yang panjang, gagasan, tujuan, harapan dan cita-cita yang luhur serta semangat berjuang dan kerelaan berkorban mewujudkan cita-cita.
Adalah James Richardson Logan, seorang sarjana hukum lulusan Universitas Edinburgh, Skotlandia, yang pada tahun 1850 memberi nama “Indonesia” pada rangkaian kepulauan Nusantara disepanjang katulistiwa. Secara fisik Indonesia berarti kepulauan Hindia. Kemudian Maxwell, seorang ahli bumi dari Inggris, menyebut wilayah ini sebagai “The Island of Indonesia” (1862). Adolf Bastian, guru besar etnologi di Universitas Berlin mempopulerkan nama Indonesia dikalangan akademisi (1884) sehingga akhirnya tersebar luas.
Orang pribumi pertama yang menggunakannya adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) sewaktu dalam masa pembuangan di negeri Belanda (1913), untuk nama biro persnya “Indonesische Persbureau” dan kemudian organisasi mahasiswa Perhimpoenan Indonesia di Belanda (1922).
Sejak zaman Sriwijaya (abad VII-XIV) dan kemudian Majapahit (abad XIII-XV) ribuan pulau-pulau yang didiami ratusan suku ini telah dikenal sebagai Nusantara. Nusantara adalah sebuah wawasan, cara pandang yang melihat laut diantara ribuan pulau itu sebagai perangkai dan penyatu, bukan sebagai pemisah. Mereka memandang ribuan kepulauan itu sebagai sebuah kesatuan, sebuah Nusantara. Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada adalah pernyataan kehendak untuk mempersatukan wilayah Nusantara sebagai satu kesatuan politik, satu negara.
- 2012
• Cita-cita Indonesia
• Diskusi Warga di Kupang, Nusa Tenggara Timur
• Siswa-Siswi SMP Frater Mamasa ber-Diskusi Warga
• Memimpin Kelompok Diskusi Warga
• Kenali Hak dan Kewajiban Anda: Hak dan Tanggungjawab Warga Negara
• Diskusi Warga: Langkah Kecil untuk Perubahan Besar











